Kuncup Tak Ingin Mekar (2)

“Ayolah. Anggap saja anak burung itu adalah kau. Ia tetap berusaha terbang meski kepakan sayapnya lemah. Ia akan buktikan pada si penghina,bahwa ia mampu tuk terbang dan menerkam sekaligus menyantap sang ular” jelas Sumekar menjawab ketidaktahuan sahabatnya.

“Aku sudah berusaha sekuatku. Berapa banyak kertas dan tinta kuhabiskan tuk merenda kata dan kalimat? kau tahu bahwa aku gagal” tolak Rahman.

Sungguh menjengkelkan bagi sumekar mendengar jawaban yang dilontarkan Rahman.

“Kau pengecut. Tak lebih selain kau ingin selalu mencoba” Sumekar menghina.

“Maksudmu apa? Pantaskah itu kau ucapkan padaku?” tanya Rahman tak mengerti dengan nada tinggi.

“Pantaskah seorang yang memiliki bibit namun tak menanam? Pantaskah engkau yang rela mengalah dan lebih rendah dari seekor anak burung yang akhirnya mampu terbang bebas dan tinggi?” sergah Sumekar dengan pertanyaannya.

Tertunduk malu, bibir kelu dan berdesir tajam jantung Rahman. Diam dan diam serta menunduk lesu. Lebih lesu dari tanaman layu yang tak mendapat tetes- tetes air. Tak pelak, Rahman menutup wajah. Menutupi rasa malu yang membuncah atas kebenaran yang diucapkan Sumekar.

“Rahman, akusebagai sahabatmu tak ingin kau ditinggal jauh oleh mereka yang mahir dan ahli menorehkan kata- kata pada selembar kertas kosong dan menjadikannya indah. Kau mampu dan kau bisa jika kau latih. Mulai sekarang, akhiri pengecutmu. Dengar dengan seksama dan kau rajut kembali dengan baik. Jelas Sumekar panjang.

“Kau benar, aku lemah dan sedikit daya. Betapa tak terfikirkan olehku, sungguh rendah ketimbang seekor bayi burung” ucap Rahman membenarkan sahabatnya. “Gagak yang jelas tahu memiliki suara buruk, masih saja berusaha mengolah suara hendak menyamai perkutut. Aku malu” lanjutnya.

Siang akan segera berlalu dengan matahari yang makin menukik ke barat. Langitpun sudah siap menyandang senja menggantikan siang. Burung- burung kocar- kacir beterbangan meninggalkan perburuan menuju sangkar. Burung hantu sudah terbangun dan bersedia memelototi malam dengan tajam dan bulat mata.

“Jadikan penyesalanmu sebagai kaca tuk hari- harimu kemudian” tutur Sumekar sembari mengeluarkan bingkisan berwarna hitam dari tasnya. “Dengan ini ku harapkan kau terus mencoba dan mencoba. Terjang dan runtuhkan dinding pengecut itu pelan- pelan. Ingat, jika terlalu cepat, akan menimpamu” lanjutnya.

Diterimanya bingkisan itu lalu dibukalah. Sebuah pena dan buku yang tebal. Rahman tahu, bahwa gadis pujaannya ingin ia menulis kembali. Tersenyum bahagia mendapat itu dan menatap senja yang telah merangkak menampilkan indah jingga mega.

“Kuanggap ini adalah awal. Aku ku robohkan dinding yang kau maksud. Tapi, Sumekar….” ucap Rahman yang terhenti karena Sumekar yang telah berdiri memandanginya.

“Aku tahu, Man. Aku tahu perasaanmu padaku. Asal kau tahu. Rasa yang kau miliki, juga kumiliki. Keinginanmu tuk mengungkapkan itu kau bendung. Akupun begitu, karena aku ingin melihatmu bangkit dan menancapkan semangatmu kokoh, lebih kokoh dari pohon nyiur dipantai” ucap Sumekar tulus.

“Tapi ingatlah, jangan kau jadikan rasa yang kita miliki sebagai alasan tuk membuatmu pandai menulis. Menulislah sebagai ungkapan rasa yang bergejolak. Menulislah dari hati, jadikan itu kebutuhan untuk melampiaskan kegelisahanmu. Doaku sebagai sesamamu dan sebagai gadis yang kau cintai, akan menemanimu tumbuh” lanjutnya.

Bergeming duduk dengan bisu dan kelu bibir kering Rahman. Tak dinyana olehnya, perasaan cinta yang selama ini dipendamnya diketahui oleh gadis yang dipuja. Betapa melambung tinggi hatinya, betapa tak terkira suka cita yang timbul.

“Aku tunggu janjimu dan tidak perlu kau tanya kesediaanku akan rasa itu, karena kau tahu. Tunjukkan padaku bahwa kau memang lelaki tangguh dan tak pantang menyerah. Di taman bunga kertas ini. disaksikan kumbang dan juga bunga kertas warna- warni. Kau harus bersedia menorehkan tinta kedalam kertas dan buatlah tulisan itu seindah bunga- bunga disini yang pantas dipandang mata. Aku menunggu itu” ucap Sumekar juga meminta janji.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s