andai saja aku bisa


andai saja aku bisa

6 September 2013 pukul 23:53

kaki-kaki kecil sang tua da juga sang belia itu masih saja melangkah.
menuai semangat dari sang nama yakni tuntutan. biar panas yang menyengat, biar dinginnya hawa sang malam menusuk tulang. mereka tetap teguh mengais sapaan Tuhan. yang akan mengisi perut yan butuh dilabuhi gizi.
andai saja, tangan ini mampu berulur sedikit saja. pasti terasa lega jiwa ini. namun apa dayaku yang hanya sebuah raga bersambung jwa dan nafas, berantung pada jerih payah orang tua diseberang sana?
diteras toko, bawah jembatan, pinggir loka sampah. mereka melepas lelah dimalam hari. saat aktifitas manusia kebanyakan tlah terhenti. karena tak mungkn siang hari, mereka pastilah terusir oleh lidah dan akal fikir yang tajam juga pedas.
andai saja aku bisa, berbagi sedikit ruang. tapi apa daya jika bagian lain tak mengiyakan naluriku?
andai saja. kini, aku hanya bisa berdoa dan menuntut ilmu. berbekal itulah suatu saat kelak tangan, kaki dan jua akal fikir milk Tuhan ni akan berulur kasih pada mereka.. kabulkanlah angan-anganku ya Rabbi, ya Gusti Allah sang pemilik jiwa dan semesta. amin.

renungan malam(ampunkan aku dan akal juga hatiku Tuhan)


renungan malam(ampunkan aku dan akal juga hatiku Tuhan)

Pernah suatu malam, saat itu menjelang waktu solat isya. Deru air mata mulai muncul dengan diawali panasnya mata ini seakan terbakar. Sempat aku berfikir tu menjad orang yang bodoh, kafir, pendusta agama juga pendosa. Bagaimana tidak? Saat aku membutuhkan pelukkan seorang ayah dan ibu, aku tak dapat meraihnya. Saat perut meraung-raung lapar, recehpun aku tak punya tuk menenangkannya.
Aku marah. Marah sekali pada Tuhan. Hingga aku dengan lancangnya berujar dalam batin yang sedang sakit, “ apa itu Tuhan, dimana pula Dia dan bisa apa Dia?” saat perh begini dia tak juga kunjung menghadiahiku sebuah keajaiban. Aku selalu saja diipojokkan dalam lorong semmpit dimana tiada pilihan lain. Selain, harus mengikuti permainan Tuhan dengan menyusuri lorong gelap itu.
Namun, semua yang sudah aku lakukan dengan marah dan menyalahkan Tuhan. Adalah hal terbodoh dalam hidup. Kembali lagi aku menangis meratapi dungunya akal dan kerasnya hati. Ya, aku ini hanya manusia yang dengan kelemahan telak melekat dalam diri. Dosa-dosa bergelimang membalut tubuh luar dan dalam. Siapapun itu. Jika menyusuriku akan menemukan bahwa aku pendosa. Ketiak, mulut, telinga, mata, hidung, kemaluan, pembuangan. Semua mengandung kotoran yang tak pernah ada habisnya hingga maut menyapa.
Fikirku, sudahi saja lah memuja kebodohan akan dunia. Masih banyak hal-hal yang terimpan dalam dan perlun digali hingga meencapai dasar. Betapapun ujian Tuhan besarnya, ialah pertanda bahwa kuatnya Iman manusia. Tuhan selalu menjadi sang penyayang, pengasih setia, pemberi apa yang diminta makhluk-Nya. Semuan ya milik Tuhan. Dan, Tuahn itu adalah adil dan bijaksana..
Sujud dan rukuk berkepanjangan terus-menerus pastilah dapat membuatku selalu mengingat cinta kasih dan nikmat Tuhan . walau dalam kondisi apapun itu. Dituntun-Nya aku dan merasakan kesulitan apa saja yang orang lain rasakan. Entah itu lapar, haus, sedih, tangis,tawa juga rasa akan orang tua.
Manunggal, nyawiji lan bali marang awaling manungso. Tansah ayem tentrem ing nirwana. Niku kang dadi penjalukku marang Gusti ALLAH S.W.T…
16 oktober 2013/ pukul 23;29

POLEMIK BRAHMARUPA


Gambar

Oleh : Y.M. Maha Dhammadhiro Thera*

(Artikel ini merupakan bagian dari tulisan berjudul ‘Buddharupa’)

Brahmarûpa atau bentuk Brahma banyak dikenal belakangan ini dengan sebutan Dewa Empat Muka. Sebagian masyarakat suku Tiong Hoa menyebutnya Sie Mien Fuo (Buddha empat muka) atau Sie Mien Sen (Sie Bin Sin, Dewa empat muka). Sesungguhnya, apakah Brahma itu? Artikel di bawah ini ditampilkan untuk membantu mengkaji tentang keberadaan Brahma melalui pandangan beberapa sudut.

Arti Kata Brahma Lanjutkan membaca